Translate

Selasa, 23 Ogos 2022

Act 1 Chapter 4

 Act 1 Chapter 4(Death Battle Begin)

Setelah beberapa ketika mencari-cari tombol yang dapat membuka pintu tersebut, Ace akhirnya menyerah. Seketika membalikkan tubuhnya, dia mendapati sosok di kerusi tahta tersebut telah hilang. Ace menarik keluar pedangnya dan melihat sekeliling secara saksama dan berhati-hati, tiba-tiba terdengar suara diisi fikirannya. "Wahai penantang, siapa kau & apa kehendakmu!?" terdengar suara tersebut didalam fikirannya Ace. Ace sambil terhairan-hairan mencari sumber suara tersebut, melihat setiap sudut ruangan tersebut berharap menjumpai sosok tadi.

Ketika Ace masih kebingugan, terdengar sekali lagi suara tersebut. "Pekenalkan, aku Penguasa Kerajaan Wue yang Agung, Vin Lopis Grave Ⅷ." Seketika Ace teringat sebuah kisah yang diceritakan ibunya, tatkala suatu ketika dulu terdapat sebuah kerajaan yang sangat berkuasa. Kerajaan yang telah dipimpin oleh keluarga Haste selama ribuan tahun tapi tidak pernah runtuh kekuasaannya. "Sebuah kerajaan kuno!" Berkata Ace dalam hati. Ace kemudian memperkenalkan diri, menyatakan tujuannya dan berkeinginan untuk pergi. 

Sosok itu kemudian menampakkan diri, Raja Lopis berada tepat dihadapan Ace melayang diudara. Ace yang tatkala tadi mencari-cari keberadaan sosok itu seketika menggetar ketakutan, aura yang cukup mencengkam terpancar dari Raja Lopis. Ace menggunakan magic light, (Brave Heart) untuk menangkal tekanan yang membebani dirinya. Ace pada awalnya ingin beranjak pergi sesegera mungkin, tapi dia mendapati satu-satunya cara untuk keluar dari tempat tersebut adalah dengan mengalahkan pemiliknya sekaligus menjadi pemilik baru.

Ace bertanyakan akan tempat tersebut kepada Raja Lopis, seketika Ace ingin mula mengucapkan sesuatu. Tubuhnya tertekan ketanah, menyebabkan dia berlutut tanpa kemahuannya sendiri. Raja Lopis mengucapkan bahawa Ace tidak layak bertanya kepadanya dengan nada sombong dan setara. Raja Lopis kemudian mengatakan bahawa tempat yang didatangi Ace adalah makam miliknya. Dia berkata bahawa makam ini dibina bertujuan menyimpan semua harta keluarga kerajaan. Setelah cukup lama bercakap, Raja Lopis kemudian melepaskan tekanan yang menekan Ace lalu mengajak Ace untuk menentangnya.

Ace yang mendapat kesempatan tersebut, langsung mengektifkan beberapa sihir. "Physical Improvement! Agility Booster! Heavy Blow!" Ace kemudian langsung menerjang Raja Lopis yang masih melayang diudara. Tanpa kesusahan Raja Lopis mengangkat tangannya, seketika membuat tanah berubah menjadi golem. Golem yang baru terbentuk itu terus menumbuk Ace dengan kuat sehingga tubuh Ace terbanting kesisi kiri dinding. Ace mengeluarkan darah dari mulutnya, ketika berusaha bangkit. Ace melihat senyuman di wajah Raja Lopis yang membuatnya merasa sangat marah. 

Ace kemudian mengaktifkan sihir jarak jauh,"Fire Ball! Ice Spear!" Serangan demi serangan Ace lancarkan tanpa henti. Disekeliling Golem tertutupi asap punca serangannya, Ace berhenti menyerang. Ketika asap mula menghilang, alangkah terkejutnya Ace mendapati seranggannya tidak bererti sama sekali. Sekali lagi Ace melihat Raja Lopis senyum meremehkannya. Ace yang tidak terima dengan hinaan tersebut teringat akan teknik pedang ayahnya yang mampu membelah tasik. Tapi jumlah kekuatan yang diperlukan cukup besar, Ace mencari cara agar dapat mengecohkan Golem dan Raja Lopis. Ace kemudian memiliki idea untuk mengabungkan sihir tanah dan angin yang akan menghasilkan badai pasir, badai pasir tersebut pasti dapat memberhentikan pergerakan Golem.

Ace kemudian mengaktifkan sihir Strong Winds dan Ruined Land yang menimbulkan badai pasir yang cukup tebal, Ace mengarahkan serangan tersebut kearah musuhnya. Ace kemudian mengambil ancang-ancang untuk mengumpulkan kekuatan yang cukup sebelum melancarkan serangan pemungkasnya. Ace terus mengumpulkan tenaga sehingga sekujur pedang dilapisi aura biru keunguan. Seketika badai pasir mereda, Ace melancarkan serangan Soul Breaking Slash!

Rabu, 10 Ogos 2022

Act 1 Chapter 3

 Act 1 Chapter 3(Demise)

   "Agh! Sial! Sialan! Monster tak guna!" Kesal Ace sambil menumbok tanah. Dia bangun lalu melihat sekeliling, Ace menggunakan sihir light lalu mula menelusuri lobang tersebut yang terhubung dengan gua tersebut. Dalam keadaan kesal, dia teringat kenangan bersama keluarganya. Dia teringat saat ayahnya mengajarkan dia teknik berpedang yang digelar Seni Pedang Froltri, saat ibunya mengajar dia membaca dan menulis sambil bersama-sama membeli keperluan harian, saat pakciknya membawakan ubat ketika dia jatuh sakit di musim sejuk dan mengajarkan sihir kepadanya. Tanpa sadar air mata membasahi pipinya. "Aku perlu cari tanaman ini segera, aku tak nak hilang lagi orang tersayang!" Bergumam Ace sambil menggenggam erat pedangnya.

   Dalam penulusuran, Ace melihat banyak tengkorak memenuhi seisi gua. Dalam perkiraannya, dia telah berjalan sekitar 30 minit tapi masih tak terlihat apa-apa. Ace terus berjalan sehingga dia melihat cahaya terang di hujung jalannya. Tanpa berfikir panjang dia berlari ke cahaya tersebut, Ace kemudian melihat ruangan tersebut dipenuhi dengan alat kimia dan bau yang menusuk deria baunya. Dia memakai pelitup muka yang telah disediakannya, menyelediki setiap sudut ruangan tersebut. Disudut paling hujung, Ace melihat sebuah kotak yang memancarkan aura yang sangat asing baginya. Ace mendekat ingin menghilangkan rasa penasarannya, dia membuka kotak tersebut dan mendapati terdapat sebuah buku. 

   "God's Greatest Dark Magic" Dibaca Ace judul buku tersebut. Ace ragu untuk mengambil buku tersebut, dia meletakkan buku tersebut kedalam kotak itu semula. Ace berbalik ingin menelusuri gua tersebut lebih dalam. Seketika melangkah maju, buku tersebut tiba-tiba hilang dari dalam kotak tanpa disadari Ace. Dia terhenti dan bersembunyi disisi tepi gua seketika melihat sekumpulan undead tingkat rendah memenuhi lorong yang terhubung dengan sebuah gerbang besar.

   Ace memeras otaknya agar dapat melepasi sekumpulan tengkorak tersebut, dia melihat kesebuah kawah yang menampung air hitam. Ace mendekat secara sembunyi-sembunyi, dia mendapati bahawa itu adalah Dark Water. "Bagus! Undead rendah tidak dapat mengenali orang yang dilumuri Dark Water." Ace mengambil Dark Water menumuri dirinya lalu berjalan menghampiri pintu gerbang tersebut. Ketika berada dihadapat pintu, dia mendapati terdapat mekanisme khusus untuk membuka pintu tersebut. Ace menelusuri setiap ukiran dipintu tersebut, membaca dan memahami konsep kunci pintu tersebut.

   Selang beberapa Jam kemudian, Ace berjaya memahami konsep kunci gerbang tersebut. Dia berjaya menempatkan setiap lubang dipintu tersebut dengan bentuk dan huruf yang tepat. Pintu tersebut terbuka dan semua undead seketika hancur menjadi abu. Ace melihat hal tersebut lalu masuk kedalam, dia melihat sesosok tengkorak duduk kerusi tahta dengan pedang di genggaman tangan kananya. Seketika Ace melangkah mendekati sosok tersebut, pintu gerbang tertutup. Ace terkejut mendapati dirinya terjebak didalam ruangan sambil melihat pintu tersebut. Ketika Ace sedang leka mencari cara keluar dari tempat tersebut, sosok tersebut bangkit dari tahtanya menantikan penantang yang ada didepannya.

Khamis, 28 Julai 2022

Act 1 Chapter 2

 Act 1- Chapter 2(Hope)

   Sadar dari pingsannya, Ace memapah dinging untuk bangun. Sebelum memulakan langkah Ace memegang kepalanya. Ace merasa sakit yang amat perit di sekitar kepalanya. Setelah beberapa minit, Ace mengambil langkah untuk turun dari tingkat dua rumahnya. Bergegas dengan niat ingin mencari penawar untuk ayahnya yang bekemungkinan telah terkena sebuah kutukan. Ace menuruni tangga perlahan, berjalan menuju pintu rumah untuk pergi ke hutan tempat penawar yang dicari berada. Sebelum keluar dari rumahnya, Ace mengambil semua keperluan untuk menjelajahi seisi hutan yang luas. Dia mengambil pedang, beg, baju penghangat, sarung tangan dan pelitup muka. Ace kemudian keluar dari rumah dengan tujuan mengobati ayahnya.

   Setelah berjalan beberapa ketika, Ace tiba di Hutan Grafi, Dia menulusuri hutan mencari tanaman yang dikatakan oleh pak ciknya. 1 meter semakin dan semakin dalam Ace berjalan mencari obat penawar tersebut. Tanpa disadarinya, dia telah berada di kedalaman hutan. Ace terkejut mengetahui dia telah berjalan hingga mencapai kedalaman hutan. Ace bergegas ingin kembali mengigat Hutan Grafi merupakan hutan yang berbahaya kerana di huni para monster di kedalaman hutan. Ace berlari menjauhi area hutan bahagian terdalam dengan harapan tidak menghadapi sebarang ancaman. Ace berlari sehingga terjumpa sebuah gua yang sangat besar, melihat bahawa gua tersebut tidak dihuni sama sekali oleh monster. Ace bertujuan untuk menginap didalamnya.

   Ketika dia mendekati gua tersebut, tiba-tiba dia terdengar bunyi yang sangat asing. Bunyi tersebut seperti sebuah jeritan yang sangat nyaring. Ace menutupi telinganya segera lalu menjauh dari gua tersebut, Ace membuka tangan yang menutupi telinganya dan mendapati darah keluar dari gegndang telinganya. "Sial!!" Kesal Ace dengan situasi tadi. "Aku kena cari tahu apa yang terjadi tadi!" Bertekad Ace mencari sumber bunyi tersebut, dia berjalan sekali lagi menghampiri gua tersebut.

   Alangkah terkejutnya Ace melihat mata yang sangat besar sedang melihat area di sekelilingnya. Ace bersembunyi di belakang pohon yang cukup besar agar terhindar dari penglihatan raksasa tersebut. 5 minit telah berlalu, tiada pergerakan dari monster tersebut. "Ada yang tak kena, kenapa tiada pergerakan sama sekali?!" Bertanya Ace kehairanan. Dia lalu keluar dari persembunyian, melihat mata tersebut sedang mengumpul energi dalam jumlah besar ingin menyerangnya. Ace yang melihat situasi tersebut sangat panik, mata besar tersebut kemudian menembakkan energi tersebut tepat diarah Ace berada. Ace bergegas menghindar dari serangan tersebut, dia melompat ke sebuah lobang disisi kirinya.

   "Ace!Ace! Ayah dalam bahaya" Menyahut ibu kepenikan sambil menaiki tangga. Ibu membuka pintu bilik Ace, melihat sekeliling mencari keberadaan Ace. "Ace! Mana kau pergi nak?!" Bertanya ibu dalam keadaan menitiskan Air mata. Ibu kemudian turun, mengambil pena bulu dan kertas lalu menulis pesan untuk Ace. "Ibu harap kau cepat pulang! Ayah dalam bahaya." Berkata ibu didalam hatinya.

Sabtu, 16 Julai 2022

Act 1 Chapter 1

 Act 1- Chapter 1(Calamity)

   Matahari pagi menyengat mukaku, Aku bangkit dari tempat tidurku. Mengemasnya kemudian berlalu ingin membersihkan diri. Aku jalan menuruni tangga menuju ruang makan. Dilihatku telah terhidang makanan diatas meja. Aku mendekat dan mendapati terdapat sepucuk surat disebelah pingganku, aku mengambil dan membacanya. "Ace, ibu dan ayah keluar ke hutan dibelakang rumah untuk mencari herba agar dapat dijual dipasar. Ibu dah sediakan makanan, lepas makan Ace tolong bantu pakcik di dusunnya." Baca Ace didalam hati. 

   Selesai makan, Ace melaksanakan tugasan yang diberi ibunya, Dia keluar menuju dusun pakciknya. Disepanjang jalan, Ace disapa dengan ramah oleh penduduk. Setibanya di dusun, Ace menjengok sekeliling, dalam hati Ace tertanya-tanya akan keberadaan pakciknya. "Tidak pula terlihat kelibat Pakcik, Pakcik tak ada ke?" Bertanya Ace didalam hati. Belum sempat Ace melangkah maju, terdengar dentuman keras diikuti guncangan yang sangat kuat. Ace terjatuh dari pijakannya menyebabkan dia kehilangan kesadaran. Seketika membuka mata, Ace mendapati bahawa dirinya ditutupi tanah dan hari telah berganti malam. 

   Dia bangun membersihkan tubuh sambil memegang kepalanya,"Agh! Apa yang terjadi?" Bertanya Ace sendiri kebingungan. Ace lalu berdiri berkeinginan untuk pulang, Setibanya dipintu gerbang kampung halamannya. Dia mendapati sesosok tubuh diantara kerumunan penduduk, Ace mendekat untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Ace dengan tubuh mungilnya lincah menelusuri kerumunan sehingga berada di baris depan. Ketika melihat sosok tubuh tersebut, Ace terkejut."Hah?! Pakcik!!" Ace melihat bahawa pakciknya berada dalam keadaan didakap ayahnya beserta ibu yang berada disisinya ayah. "Ap..Apa yang terjadi ayah?!" Bertanya Ace kebingungan. Ayah hanya melihat sekilas ace lalu memandang semula muka adiknya itu. Air mata kedua orang tua Ace membanjiri pipi, Ayah ace kemudian membawa jasad adiknya untuk diserahkan ke pihak gereja untuk proses pemakaman. 

   Ibu lalu menarik tangan Ace agar Ace pulang ke rumah bersamanya. Setibanya dirumah, Ibunya memberi sepucuk surat yang katanya dari Pakciknya. Ace mengambil surat itu lalu menaiki tangga menuju biliknya, Ace membuka surat tersebut. "Jika Ace sedang membaca surat ini, Pakcik mungkin dah tiada. Ace kena ingat ini betul-betul!! Pakcik telah ditandai dengan sebuah kutukan. Pakcik ingin memberi tahu pada Trace tapi Pakcik tak sanggup buat dia sedih. Pakcik telah jalankan sebuah kajian untuk membuat penawar bagi kutukan pakcik. Pakcik mendapati bahawa kutukan ini dapat merebak melalui sentuhan, Ace kena cari penawar yang tersenarai agar Trace,abang pakcik juga ayah Ace tidak berakhir seperti pakcik. Yang terhormat,Hurt." Ace membaca surat tersebut dalam keadaan sebak. 

   Seusai membaca surat tersebut Ace mengetahui bahawa kutukan tersebut telah beralih ke tubuh ayahnya. Tanpa berpikir panjang, Ace ingin bergegas mencari penawar untuk ayahnya. Ketika dia berdiri dari tempat tidurnya, dia merasa pening yang teramat sehingga memyebabkan dia jatuh pingsan di lantai.

   Dialam yang lain terdapat sebuah meja bundar dengan dikelilingi 12 kerusi dengan 1 kerusia berlambangkan mahkota naga. Seketika pintu rungan terbuka, 13 sosok asing memasuki ruangan. Mereka duduk di kerusi masing-masing. Salah seorang dari mereka memulakan perbicaraan. "Penduduk Benua Traju telah mengalami penurunan yang sangat signifikan, Kita perlu mengambil tindakan!" Perkataan itu lalu disahut oleh sosok yang lain,"Sebagai 13 Dewa agong kita perlu menghakimi mereka!" Setelah mereka berdebat antara satu sama lain, sosok yang duduk di kerusia mahkota naga mengangkat tangannya lalu muncul sebuah titah. "BENUA TRAJU HARUS DIJATUHI HUKUMAN!!" Seisi ruangan menjadi sepi, mereka semua setuju dengan pernyataan tersebut. Mereka lalu menghulur tangan mereka ke atas meja lalu terjadilah bencana di Benua Traju.

Selasa, 12 Julai 2022

Prolog-THE LAST KING OF ENDLESS WORLD

Prolog-The Ireful Emperor



!!Ini adalah cerita fiksi semata tidak melibatkan yang masih hidup atau yang telah tiada, jika terdapat persamaan nama tempat, orang atau haiwan hanyalah kebetulan semata!!

 "Bum!Bum!Bum!" suara auman kilat menggegarkan seisi dunia. Tapak kaki sang raja berjalan ke ruang tahta terdengar disepanjang koredor. Aura yang sangat kuat membuat dinding istana bergetar hebat. Suara pengumuman ketibaan dilaung dengan kuat,"Sambutlah Ketibaan Agung, Sang Penguasa! Ace Alexander!" Pintu gerbang dibuka, dia berjalan menuju kerusi tahta. Semua yang berada disitu melapak sembah ke Sang Penguasa. "Bangkitlah! Aku ingin mendengar laporan kalian" suara Ace terdengar lantang. Seorang bangsawan maju menghadap meminta memberi laporan. "Ampun,tuanku! Saya menghadap memberi laporan, Kawasan kekuasaan saya berada dalam sebuah krisis. Panen dikekuasaan saya berkurang dari tahun lalu, ekoran cuaca yang tidak mendukung. Patik mengharapkan buah fikiran tuanku untuk membantu patik." Ace tanpa berfikir panjang mengeluarkan sebuah titah. dengan mengangkat tangannya dia menarik dewa alam dari Alam Dravu. "Hei dewa Syawe! Bukankah aku sudah bertitah untuk tidak mengganggu wilayah kekuasaanku?!" Dalam keadaan ketakutan, Syawe, dewa Alam menjawab dengan cara memohon ampunan. Syawe mengatakan bahawa dia tidak akan pernah berani mengganggu kekuasaan Ace. Syawe mengatakan dia diperintah oleh dewa tertinggi, Xeos. Ace bangkit dari kerusi tahtanya, tekanan kuat meyembur keluar dari tubuhnya. Semua yang berada di ruangan menjadi tercekik kerana terganggunya alur sihir. Dalam keadaan terdesak, Jendrel Utama Kerajaan SYOR VRI, Afos memanggil Penguasa Magik & Pedang. "Wahai berkah magik & pedang sambut panggilan anakmu, Sang penguasa dalam keadaan marah!" Dalam sekejap, terlakar sihir kuno di depan Afos. Dari lingkaran tersebut keluar dua sosok, satu berjubah darah ungu dan satu berpedang bulan. Tanpa mengulur waktu, mereka menuju ke hadapan Ace lalu membuat perisai pengepung. Aura yang keluar dari Ace terkumpul di dalam perisai tersebut. Mereka langsung meminta Ace menenagkan diri dan menyuruhnya berjumpa secara langsung dengan Xeos di alam para dewa, Kroswot. Setelah sedkit tenang,Ace menghentikan auranya daripada terus menekan para bawahannya. Ace berjalan menuruni altar kerusi tahtanya diikuti dua master tersebut. Keluar dari ruanggan, Ace langsung teleport ke luar istana untuk menuju ke Kroswot, ketika berada diluar, Ace bertitah agar dua master pedang dan sihir kembali ke alam masing-masing agar dunia tidak jatuh ke keadaan malapetaka sekali lagi. Setelah mendengar titah tersebut mereka menundukkan kepala lalu beranjak pergi. Ace dengan sihinya menukar bajunya menjadi hitam keungguan dengan dikelilingi kabut, Dengan merapal sihir dia memanggil tangan kanannya beserta pembantunya. Ace kemudian memanggil tunggangannya, dengan sekali arahan Kros, tunggangannya melesat laju ke Kroswot.

Act 1 Chapter 4

 Act 1 Chapter 4(Death Battle Begin) Setelah beberapa ketika mencari-cari tombol yang dapat membuka pintu tersebut, Ace akhirnya menyerah. S...